JAKARTA - Libur panjang Natal dan Tahun Baru kembali menjadi cerminan tingginya mobilitas masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Arus perjalanan selama periode ini menunjukkan dinamika pergerakan yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.
Pemerintah mencatat bahwa minat masyarakat untuk bepergian selama Nataru 2025/2026 mengalami peningkatan signifikan. Kondisi ini menandakan pemulihan kepercayaan publik terhadap aktivitas perjalanan dan liburan.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengungkapkan bahwa total sementara pergerakan masyarakat selama Nataru 2025/2026 mencapai sekitar 110 juta orang. Angka tersebut menunjukkan adanya lonjakan dibandingkan periode libur akhir tahun sebelumnya.
“Pada Nataru kali ini ada peningkatan dibandingkan Nataru tahun kemarin yang sekitar 90 juta, Nataru tahun ini sekitar 110 juta,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kemenhub. Pernyataan ini menegaskan tingginya antusiasme masyarakat memanfaatkan libur akhir tahun.
Perbandingan Data dan Evaluasi Awal Pergerakan Nataru
Dudy mengamini bahwa realisasi pergerakan masyarakat tersebut masih berada di bawah prediksi awal pemerintah. Namun demikian, capaian ini tetap lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Prediksi awal pergerakan masyarakat selama Nataru 2025/2026 diperkirakan mencapai 119,5 juta orang. Meski tidak tercapai sepenuhnya, angka 110 juta tetap dianggap sebagai capaian positif.
Menurut Dudy, realisasi tersebut juga lebih tinggi dibandingkan periode Nataru sebelumnya yang tercatat sebanyak 94,67 juta orang. Artinya, terjadi peningkatan signifikan dalam kurun waktu satu tahun.
Jika dibandingkan dengan Nataru 2024/2025, terdapat sekitar 15 juta orang tambahan yang melakukan perjalanan selama libur akhir tahun. Peningkatan ini menunjukkan tren pertumbuhan mobilitas masyarakat.
Kementerian Perhubungan menilai lonjakan ini sebagai indikator penting bagi sektor transportasi nasional. Data tersebut menjadi dasar evaluasi kebijakan dan perencanaan angkutan ke depan.
Meski angka total pergerakan telah diketahui, Dudy menyampaikan bahwa data rinci per moda transportasi belum dapat dipaparkan. Proses pengolahan dan verifikasi data masih terus berlangsung.
Ia menyebut bahwa perincian data pergerakan masyarakat untuk moda laut, penyeberangan, udara, kereta api, serta kendaraan di jalan tol dan arteri masih dalam tahap pengumpulan. Oleh karena itu, informasi detail akan disampaikan kemudian.
Kondisi ini menunjukkan kompleksitas pengelolaan data transportasi nasional. Berbagai moda memiliki karakteristik dan sistem pencatatan yang berbeda.
Faktor Pendorong Lonjakan Mobilitas Masyarakat
Terkait faktor yang mendorong peningkatan pergerakan masyarakat, Dudy menyatakan masih diperlukan kajian lebih lanjut. Pemerintah belum menarik kesimpulan pasti mengenai penyebab utama lonjakan tersebut.
Ia menyebut bahwa ada beberapa kemungkinan yang memengaruhi tingginya mobilitas selama Nataru. Salah satunya adalah efek stimulus yang diberikan pemerintah untuk seluruh moda transportasi.
Selain stimulus, faktor daya beli masyarakat juga menjadi perhatian. Peningkatan atau pelemahan daya beli dinilai dapat memengaruhi keputusan masyarakat untuk bepergian.
Dudy juga tidak menutup kemungkinan bahwa minat masyarakat untuk berlibur memang telah pulih. Setelah beberapa tahun menghadapi berbagai pembatasan, masyarakat cenderung memanfaatkan momen libur panjang.
“Mungkin karena stimulus, itu juga bisa salah satu yang mendorong [peningkatan] ya,” tuturnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemerintah masih membuka ruang analisis terhadap berbagai faktor.
Kajian mendalam dinilai penting untuk memastikan kebijakan transportasi ke depan lebih tepat sasaran. Evaluasi ini juga diperlukan agar lonjakan mobilitas dapat dikelola dengan baik.
Pemerintah ingin memastikan bahwa peningkatan jumlah perjalanan tidak mengorbankan aspek keselamatan dan kenyamanan. Oleh karena itu, hasil kajian akan menjadi dasar perbaikan sistem angkutan.
Lonjakan mobilitas juga berdampak pada beban infrastruktur transportasi. Kesiapan sarana dan prasarana menjadi faktor krusial dalam menghadapi periode libur panjang.
Prediksi Awal dan Pola Pergerakan Kendaraan
Sebelumnya, hasil survei Badan Kebijakan Transportasi memberikan gambaran awal pergerakan masyarakat selama libur Nataru 2025/2026. Survei tersebut menjadi acuan pemerintah dalam menyusun strategi angkutan.
Berdasarkan survei tersebut, pergerakan masyarakat diperkirakan mencapai 42,01 persen dari total penduduk. Jika dikonversi, angka tersebut setara dengan sekitar 119,50 juta orang.
Selain jumlah orang, survei juga memprediksi volume lalu lintas kendaraan. Diperkirakan terdapat sekitar 2,9 juta kendaraan yang keluar dari Jakarta selama periode libur.
Dari total tersebut, sekitar 1,3 juta kendaraan diperkirakan bergerak ke arah Cikampek. Jalur ini menjadi salah satu koridor utama perjalanan masyarakat.
Sebanyak 880.000 kendaraan diprediksi bergerak ke arah Barat. Sementara itu, sekitar 670.000 kendaraan diperkirakan menuju arah Selatan.
Prediksi ini menunjukkan konsentrasi pergerakan kendaraan pada jalur-jalur utama. Pemerintah menggunakan data tersebut untuk mengatur rekayasa lalu lintas.
Meski realisasi jumlah pergerakan orang lebih rendah dari prediksi, pola perjalanan tetap menunjukkan kecenderungan yang sama. Jalur utama tetap menjadi titik krusial pengelolaan arus lalu lintas.
Evaluasi antara prediksi dan realisasi menjadi bahan pembelajaran penting. Pemerintah dapat menyesuaikan metode survei dan pendekatan perencanaan di masa depan.
Pilihan Moda Transportasi Selama Nataru
Survei Badan Kebijakan Transportasi juga memetakan pilihan moda transportasi masyarakat selama libur Nataru. Data ini memberikan gambaran preferensi perjalanan masyarakat.
Penggunaan mobil pribadi tercatat sebagai moda transportasi terbanyak. Angkanya mencapai 42,78 persen atau sekitar 51,12 juta orang.
Tingginya penggunaan mobil pribadi menunjukkan fleksibilitas masih menjadi pertimbangan utama masyarakat. Faktor kenyamanan dan kebebasan waktu turut memengaruhi pilihan ini.
Moda transportasi terbanyak berikutnya adalah sepeda motor. Persentasenya mencapai 18,41 persen atau sekitar 22,00 juta orang.
Bus menjadi moda selanjutnya dengan porsi 8,17 persen atau sekitar 9,76 juta orang. Moda ini masih menjadi pilihan bagi masyarakat yang menginginkan perjalanan ekonomis.
Mobil sewa mencatatkan porsi 7,43 persen atau sekitar 8,87 juta orang. Sementara itu, mobil travel digunakan oleh sekitar 6,39 persen atau 7,64 juta orang.
Untuk transportasi udara, persentase pengguna tercatat sebesar 3,57 persen atau sekitar 4,27 juta orang. Angka ini menunjukkan peran pesawat dalam perjalanan jarak jauh.
Kereta api jarak jauh digunakan oleh sekitar 3,29 persen atau 3,94 juta orang. Moda ini tetap diminati karena ketepatan waktu dan kenyamanan.
Kapal penyeberangan mencatatkan porsi 3,14 persen atau sekitar 3,75 juta orang. Sementara kapal laut digunakan oleh sekitar 2,20 persen atau 2,62 juta orang.
Commuter line menjadi moda dengan porsi 1,93 persen atau sekitar 2,30 juta orang. Moda ini banyak digunakan untuk perjalanan jarak pendek di wilayah perkotaan.
Data pilihan moda ini menunjukkan keberagaman pola perjalanan masyarakat. Pemerintah menilai informasi ini penting untuk menyusun kebijakan transportasi yang adaptif.
Dengan pergerakan masyarakat yang mencapai 110 juta orang, tantangan pengelolaan transportasi semakin kompleks. Pemerintah berkomitmen menjadikan hasil evaluasi Nataru 2025/2026 sebagai dasar peningkatan layanan di masa mendatang.